Tafsir Tarbawi


KONSEP MANUSIA DALAM AL-QURAN (INSAN, NAS, BASYAR, BANI ADAM)
Siti Nur Holisa M. Bonde
ABSTRAK
Tulisan ini bermaksud mengkaji konsep manusia dalam Al-quran (Insan, Nas, Basyar, Bani Adam). Manusia merupakan salah satu aktor utama dalam Al-quran. Keutamaannya itu terletak dari sisi kemuliannya, dengan banyak disebutkan peristilahannya di dalamnya, potensi yang dimilikinya, kitab atau amanah dari Allah SWT. Yang harus dipikulnya, tempat yang harus dipelihara dan dirawatnya, pedoman atau aturan yang harus dipegang dan diamalkannya. Manusia merupakan salah satu dari makhluk-makhluk Allah SWT. Ia juga sebagian besar mempunyai sifat-sifat yang sama dengan makhluk lain dan diciptakan dengan unsur-unsur yang ada juga pada makhluk lain. Tiga substansi pokok manusia, yaitu, pertama, secara material, manusia disebut dengan al-Basyar yang ujungnya berakar ke tanah. Sementara dipandang dari sudut imaterial, manusia terdiri unsur ruhaniah seperti ruh, akal, indra, dll. Sedangkan dipandang dari sudut fungsional Al-quran menyebut manusia sebagai abdun atau ‘abid yang artinya hamba yang tugasnya mengabdi. Di samping itu Al-quran menyebut sebagai khalifah manusia memiliki potensi dalam mengembangkan karya dan ilmu.
Kata kunci: penciptaan, manusia, Al-quran.

PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan, kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada baginda tercinta kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari kegelapan hingga kehidupan terang benderang saat ini.
Artikel ini adalah artikel yang pertama kali saya buat dan masih banyak terdapat kesalahan, kekurangan serta belum memenuhi standar artikel yang sebenarnya. Tetapi saya akan berusaha lebih baik lagi untuk kedepannya. Apabila terdapat banyak kesalahan pada artikel ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. 
Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua, keluarga, teman-teman serta senior-senior jurusan pendidikan Bahasa Arab yang telah membantu, mengarahkan, membimbing, serta memberi semangat.
Demikian, semoga artikel ini bermanfaat kepada pembaca.
Terima Kasih….

PEMBAHASAN
A.  Proses Penciptaan Manusia
Al-quran telah menjelaskan dua unsur manusia yaitu jasad dan ruh. Keduanya diciptakan oleh Allah SWT melalui proses atau tahapan tertentu. Namun kebanyakan ayat Al-quran yang bertebaran di surah-surah yang berkenaan dengan penciptaan manusia membicarakan tentang proses penciptaan, unsur jasad. Penciptaan manusia (Adam AS) adalah dari tanah. Tanah ini merupakan unsur pembentuk jasad yang dalam istilah Afif Muhammad disebut unsur bawah. 
Al-quran menjelaskan dalam proses penciptaan setelah Adam AS (anak cucu Adam) melalui proses penjabaran yang cukup panjang. Proses tersebut diawali dengan penciptaan sperma dari sari pati tanah, kemudian Allah menciptakan dari sari pati itu sperma yang ditumpahkan dalam ayat lain sperma yang hina, sperma yang memancar. (Nasution, 1995)
Kemudian, sperma berproses menjadi ‘alaqah (segumpal darah), kemudian ‘alaqah diproses menjadi mudghah (segumpal daging), setelah itu menjadi bayi.
Proses penciptaan manusia itu sebagai berikut:
1.    Adam As. Sebagai manusia pertama diciptakan dari tanah liat dan lumpur hitam
2.    Anak cucu Adam As. Diciptakan dari sari pati tanah yang kemudian menjadi sperma yang tertumpah, memancar, dan hina.
3.    Kemudian setelah sperma menjadi ‘alaqah, ‘alaqah menjadi mudhdah, lalu ia menjadi ‘idhaman lahman.
4.    Pada saat proses diatas (poin 2 dan 3) berlangsung ditiupkanlah ruh. Disamping ruh Allah menciptakan atau memberikan indra pendengaran, dan penglihatan, dan hati.
5.    Setelah sampai pada masa yang telah ditetapkan Allah SWT (kelahiran paling cepat 6 bulan, mayoritas 9 bulan, dan pendapat lain 1 tahun), lalu lahirlah bayi atau manusia sempurna.
B. Istilah-istilah untuk Manusia
Ada tiga kata yang digunakan Al-quran untuk menunjukkan kepada manusia:
1.    Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan sin, semacam insan. Ins, nas, atau unas.
2.    Menggunakan kata Basyar
3.    Menggunakan kata Bani Adam, dzurirat Adam.
Kata insan digunakan Al-quran untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seorang dengan lain akibat perbedaan fisik dan mental, dan kecerdasan. (Bucaille, 1978)

Dengan demikian ungkapan insan dalam Al-quran dikelompokkan kedalam kategori:
a.    Insan sebagai khalifah yakni pemikul amanah
b.    Insan dengan sifat-sifat negatifnya
c.    Insan dalam proses penciptaanya
Pertama, insan sebagai khalifah, pemikul agama ini didasari bahwa manusia telah diberi bekal dalam menjalankan hidupnya yang bersifat abstraktif, tak dapat dilihat dan tak dapat juga diraba, akan tetapi hanya dapat dirasakan dan diketahui efek setelah fungsi dari hal tersebut bekerja.
Kedua, insan dikaitkan dengan sifat-sifat negatif banyak dijumpai dalam Al-quran yang disebut secara tegas dan gamblang. (Juhaeli, 1991)
Sedangkan kata yang menunjuk manusia yang kedua adalah basyar. Kata itu terambil dan akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang lain.

C. Potensi Manusia
Secara etimologis, “karromna” sepadan dengan makna “fudhulna” . artinya kemuliaan atau keutamaan. Kemuliaan atau keutaman manusia itu diantaranya adalah bentuk yang baik, seimbang, berdiri tegak, mampu membedakan sesuatu dengan akal dan ilmu, memahami Bahasa ataupun isyarat, menguasai bumi, disamping itu manusia memiliki akal, dengan akalnya manusia berilmu pengetahuan, mencapai kemajuan dan berbudaya. (Shihab, 1993)
Maksud dari sebaik-baik bentuk itu dalam tiga hal, yaitu:
a.    Fisik, dilihat dari sisi ini, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya, seperti binatang (monyet).
b.    Akal, merupakan hidayah dari Allah. Dengan akal manusia, bisa menciptakan budaya dan mendapatkan ilmu pengetahuan dan mencapai kemajuan.
c.    Hati, merupakan potensi manusia berkaitan dengan kesadaran atau perasaan. Hati sangat berperan dalam membawa kebaikan fisik.
D.  Tugas Manusia di Dunia
Al-quran banyak menegaskan tentang tugas hidupnya yang harus dilaksanakan di dunia (al-ardh) seperti mengabdi (‘ibadah) dan memakmurkan bumi (isti’mar). (Agus, 1993)
Secara global dapat ditarik kesimpulan berkaitan dengan tugas manusia berdasarkan dalam ayat Al-quran sebagai berikut:
1.    Mengabdi (ibadah) kepada-Nya.
2.    Memelihara dan menjaga bumi, serta memakmurkannya (alam).
3.    Memurnikan Tauhid dari syirik.
4.    Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Jadi tugas pokok manusia sebagai hamba (abdun) adalah mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT (ma’bud) dalam arti seluas-luasnya. Ibadah menjadi inti dari segala hal. Sebab baik memurnikan tauhid dari syirik, memelihara bumi, dan amar ma’ruf merupakan bentuk pengabdian juga.
E.  Pedoman Hidup Manusia dan tempat Tinggalnya

Hal-hal lain yang sangat urgen berkaitan dengan manusia adalah Al-quran itu sendiri sebagai pedoman hidup dan bumi sebagai tempat tinggalnya. Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa manusia memiliki potensi yang tinggi, dan mulia dibanding makhluk yang lainnya. Diantara kemuliaan itu adalah diberikannya akal dan hati. Namun akal dan hati harus tunduk kepada nilai-nilai yang tinggi tidak boleh tunduk kepada nilai yang rendah. Nilai yang tinggi itu tentu nilai ilahiyah. Sehingga dalam perjalanan kembalinya selamat dan sampai kepada Allah. Untuk itu Allah SWT yang maha mengetahui menurunkan Al-quran. (Machasin, 1996)

a.    Ayat dan Terjemahan
Proses penciptaan manusia:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali ‘imran: 59)
Proses penciptaan manusia:
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِ
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu’minun: 14)
Sifat manusia ragu-ragu terhadap hari pembalasan:
وَيَقُولُ الْإِنْسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيّ
Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?" (QS. Maryam: 66) (Rahman, 1983)
b.  Analisis mufradat
               Q.S. Ali Imran ayat 59

Sesungguhnya
اِنَّ
Perumpamaan

مَثَلَ
Isa
عِيسَى
Di sisi
عِنْدَ
Allah
الله
Seperti perumpamaan
كَمَثَلَ
Adam
ءادَمَ
Dia menjadikannya
خَلَقَهُ
Dari
مِن
Tanah
تُرَب
Kemudian
ثُمَّ
Dia berfirman
قَالَ
Kepadanya
لَهُ
Jadilah
كُنْ
Maka jadilah dia
فَيَكُوْنُ
c.    Hadits terkait
Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud r.a., ia berkata, Rasulullah saw. yang dialah orang yang jujur dan terpercaya pernah bercerita kepada kami.
“Sesunggunya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari (berupa nutfah/sperma), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama waktu itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat empat perkara yang telah ditentutkan yaitu; rezekinya, ajal, amal perbuatan, dan sengsara atau ahagianya”.
d.    Pendapat Ulama/ Ahli
Menurut ulama Abdurrahman an-Nahlawy, ada dua hakikat penciptaan manusia dilihat dari sumbernya. Yang pertama adalah asal atau sumber yang jauh yakni menyangkut proses penciptaan manusia dari tanah dan disempurnakannya manusia dari tanah tersebut dengan ditiupkannya ruh. Asal yang kedua adalah penciptaan manusia dari sumber yang dekat yakni penciptaan manusia dari nutfah yakni sel telur dan sel sperma.
e.    Kandung Makna
1.    Surah ali ‘Imran ayat 59, kelahiran Nabi Isa As. Kejadiannya mirip dengan terciptanya Nabi Adam As. Keduanya diciptakan oleh Allah SWT menyimpang dari kebiasaan terciptanya manusia pada umumnya.
2.    Surah al-Mu’minun ayat 14 menjelaskan tentang dalil manusia sebagai makhluk ciptaan Allah paling sempurna.
3.    Surah Maryam ayat 66, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang mampu menghidupkan kembali orang yang mati, Allah SWT mengambil contoh dari permulaan penciptaan yang dilakukan-Nya. Dengan kata lain, Allah SWT menciptakan manusia, sedangkan manusia tidak ada sama sekali, maka mudahlah bagi-Nya mengembalikan manusia hidup kembali, bahkan mengembalikannya jauh lebih mudah karena telah ada.
f.    Pesan-Pesan pendidikan
Pendidikan dalam persfektif al-Quran sesuai dengan interpretasi terhadap ayatnya, mempunyai tugas mulia yaitu mengantarkan manusia untuk menyadari akan tugas hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah. Tujuan pendidikan sebagai arah dan penentu proses pendidikan, hendaknya berorientasi pada pembentukan seorang manusia menjadi hamba Allah SWT yang taat dan patuh pada aturan-Nya. Sebagai seorang hamba seluruh kegiatan dan aktivitasnya harus dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah. Untuk dapat melaksanakan tugas hidupnya tersebut, yaitu ibadah, manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, pengalaman, dan keterampilan, teknologi, dan sarana pendukung lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa komsep ibadah dalam al-Quran berkaitan erat dengan pendidikan. Manusia yang dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya yang demikian itu, merupakan sesuatu yang diharapkan dalam kegiatan usaha pendidikan. (Ahmad, 1990)     
KESIMPULAN

Manusia adalah makhluk yang lemah artinya terbatas dalam segala hal, baik fisik, ilmu, dan lain sebagainya. Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan, kemuliaan, dibekal Al-quran sebagai pedoman hidup yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

 DAFTAR PUSTAKA
Agus, Bu. (1993). Al-Islam.
Ahmad, N. (1990). upaya memahami manusia dalam al-Quran.
Bucaille,  dr. M. (1978). bibel, quran, dan snain modern.
Juhaeli, W. (1991). tafsir munir fi al-’Aqidah wa al-Syari’ah wa al manhaj.
Machasin. (1996).  menyelami kebebasan manusia.
Nasution, H. (1995).  Islam Rasional.
Rahman, F. (1983). tema-tema pokok al-Quran.
Shihab, M. Q. (1993). No Title op.


Komentar